baner gunung batu

Gunung Batu kini menjadi salah satu tujuan para pendaki lintas generasi baik pendaki masa kini, masa lalu, dan masa depan (yaelah bahasanya). Hanya dalam waktu singkat Gunung ini jadi salah satu tujuan utama para pendaki yang tinggal di sekitar wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Gunung ini mulai dikenal para pendaki masa kini pada tahun 2014. Setahun kemudian gunung ini menjadi anak emas. Barulah pada tahun 2016 pengunjungnya mulai sedikit menurun. Selain karena lokasinya yang dekat, pendaki gak perlu waktu berhari-hari untuk sampai di pucuknya. Kita bisa mendaki gunung ini hanya dalam waktu satu hari atau bahasa kerennya one day hiking.

Gunung Batu ini masuk kategori gunung imut. Menurut situs berbagi pengetahuan wikipedia.id, Gunung Batu Jonggol ini memiliki tinggi cuma 875 meter di atas permukaan laut (mdpl), dan letaknya masih berada di wilayah Kabupaten Bogor, bukan di Jonggol seperti yang sering disebut para pendaki. Letak Gunung Batu tepatnya berada di Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

Di awal Gunung Batu terkenal, gue sama sekali belum tertarik untuk pergi ke sana. Gue lebih melirik gunung-gunung bertubuh bongsor dan jangkung di sekitar Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tapi lama-lama gue penasaran juga untuk mendakinya.

Sabtu siang, 10 April 2016, gue bareng teman-teman alumni pendakian Gunung Prau, Hary Pasaribu, Ary Gumilang, Andi Ganesha, Andi Mastra, Tenny Merlin, Alvia Tussaadah, dan Siti (pacarnya Andi Ganesha), berangkat menunju ke Gunung Batu dengan menyewa angkot dari Terminal Kampung Rambutan. Setelah berunding dengan sopir angkot, disepakatilah harga sewa sebesar 300 ribu…dolar, eh rupiah. Ternyata, sopirnya ini gak tahu lokasi yang kami tuju. Dia tahunya Jonggol aja. Sebelumnya kami berniat ke lokasi dengan menggunakan angkot, tapi karena harus 3 kali naik turun angkot disambung dengan sewa mobil bak, kami akhirnya putuskan sewa angkot.

Ini adalah reuni pertama kami sejak pendakian ke Prau pada bulan September 2013. Lama banget ya? Emang. Maklum, pada sok sibuk kuliah (Alvia dan Andi Mastra), dan pada sok sibuk kerja termasuk gue sih.

Oiya, kami rencananya pingin kemping ceria dulu di Gunung Batu pada malam minggu, baru esok harinya kami menuju ke puncak. Aneh ya? Emang. Maklum kami pingin bernostalgia seperti kala di puncak Prau dulu.

Tepat jam 2 siang, meleset 2 jam dari rencana, kami cabut ke Jonggol, eh Bogor. Ini gara-gara Hary telat (kemudian gue dihajar Hary). Ralat ya pembaca, yang benar bukan Hary yang telat, tapi Ary. Iya deh gue ngaku. Gue yang telat. Dalam benak gue (yaelah benak), jarak dari Jakarta Timur ke daerah Jonggol gak terlalu jauhlah. Tenyata jauhnya bukan main.

Memasuki kawasan Bogor, hujan lebat mengguyur. Hujannya awet banget lagi. Jam menunjukkan sekitar pukul 16.30 dan wajah si sopir tampak kecewa berat. Dalam benaknya, kok gak sampai-sampai ya. Maafkan kami Abang sopir ha-ha-ha… Karena enggak tega, akhirnya kami bilang akan menambah ongkosnya 50 ribu lagi. Pada akhirnya kami menambah ongkos 75 ribu.

Kala itu kami sudah melewati Desa Mengker. Entah kami ada di desa apa waktu itu. Yang jelas, dari sini, butuh sekitar 1,5 jam lagi untuk sampai ke Gunung Batu. Dengan aplikasi Google Maps di handphonenya, Hary membimbing Abang sopir ke lokasi. Dari jalan raya itu kami lalu berbelok ke kanan memasuki jalanan kampung, jalannya berkelok-kelok, agak sempit, dan berlubang. Belakangan kami baru tahu semestinya kami belok kanan di pertigaan Desa Mengker karena jalannya lebih bagus dan pastinya lebih dekat. Dari kejauhan deretan bukit terlihat indah. Hujan turun semakin hebat. Setelah sempat terlewat berbelok, kami akhirnya sampai di kaki Gunung Batu sekitar pukul 17.30. Waktu itu hujan sudah reda.

Kita pun beristirahat di sebuah kedai kecil dengan disuguhi pemandangan yang bagus. Sehingga nafsu makan kami pun semakin meningkat dengan titik yang nyaman dan nikmat.

Kami berteduh di warung yang berdiri di pinggir jalan. Di sini kita bisa mengisi perut dengan makan bakso dan gorengan. Dari sini terlihat jelas punggung (punggung atau dada ya :D? terserahlah) Gunung Batu. Wujudnya persis seperti Gunung Eiger alias North Face. Kami bergerak menuju basecamp setelah magrib dengan ditemani gerimis centil.

Di antara kami, cuma Alvia yang pernah bertandang ke sini. Tapi dia gak tahu jalan karena waktu dia pergi ke sini dengan menggunakan sepeda onthel motor bareng teman-temannya dan gak masuk lewat pintu masuk ini. Kami menyusuri jalan berbatu dan berkerikil, berlubang, becek dan gak ada ojek. Semakin lama jalan yang kami lalui semakin menyempit. Sekitar 40 menitan kami akhirnya sampai di sebuah lapangan yang dikelilingi warung makan. Ini adalah tempat parkir motor buat para pendaki. Di sini kami berhenti sejenak buat rehat.

Awalnya kami berniat bermalam di pinggir jalur menuju puncak tapi batal karena hari sudah malam. Opsi satu-satunya adalah mendirikan tenda di tempat parkir yang gundul. . Sebenarnya ada lahan luas di belakang tempat parkir dan lebih enak untuk dijadikan tempat bermalam, tapi di sini penuh pohon jati. Kami cemas (yaelah, cemas) ada ranting yang tumbang dan menimpa tenda. Untuk mendirikan tenda di sini kita mesti bayar kawan, tapi gue lupa jumlahnya berapa.

Layaknya mendaki gunung sungguhan, malam itu kami masak. Diawali masak air buat nyeduh kopi dan teh, lalu masak mie instan spesial ala-ala, ditemani dengan gorengan yang kami beli tadi siang. Malam itu kami kongko sambil bersenda gurau. Kala itu area parkir serasa jadi tempat arisan ibu-ibu: ramai. Akang-akang yang berjaga di pos parkir tampak senyum-senyum melihat tingkah kami. Hujan sedari sore membuat cuaca di sini menjadi hangat. Gak terasa jam menunjukkan pukul 10, satu per satu kami masuk ke dalam tenda: molor.

Hari Minggu subuh sekitar pukul 4.30, kami berangkat menuju puncak. Bangunnya sih udah dari 1 jam yang lalu, tapi karena kedinginan jadi pada malas bergerak. Pagi itu hujan sudah reda dan langit tampak cerah, udaranya benar-benar sejuk. Hujan bikin trek tanah menuju puncak jadi licin. Baru jalan sekitar 30 menit, kami sudah melihat pemandangan spektakuler dalam cahaya yang masih remang-remang. Sejauh mata memandang ke segala arah gue melihat pemandangan menakjubkan berupa perbukitan, hamparan sawah, perkebunan, hutan, rumah penduduk, dan sungai yang berkelok-kelok. Pemandangannya seperti daratan di New Zealand yang sering gue lihat di televisi.

kebersamaan

Sejauh mata memandang ke segala arah, gue melihat pemandangan menakjubkan berupa perbukitan, hamparan sawah, perkebunan, hutan, rumah penduduk , dan sungai yang berkelok-kelok 

sumber

Other Story >>;